Wakil Presiden Mesir Mohamed Elbaradei mengundurkan diri, Rabu
sebagai protes atas pembubaran paksa pengunjuk rasa damai pendukung
presiden terguling Mohamed Moursi. Kantor berita Mesir, MENA,
melaporkan, Elbaradei mengutuk keras operasi pembubaran unjuk rasa
secara paksa tersebut.
Rumor mengenai ancaman pengunduran diri Elbaradei itu sempat
terdengar pekan lalu ketika Presiden Adly Mansour dan Panglima Militer
Abdel Fatah Al Sisi bersikeras akan membubarkan unjuk rasa secara paksa.
Mantan Ketua Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan peraih Nobel
Perdamaian itu berperan penting dalam pelengseran Moursi dan bergabung
dengan pemerintah transisi. Para pengamat menilai, pengunduran diri
Albaradei ini menjadi awal perpecahan dalam pemerintahan transisi.
Sementara itu, pendukung presiden terguling Mohamed Mursi akhirnya
dipaksa meninggalkan Bundaran Rabiah Adawiyah di Kairo Timur pada Rabu
setelah sekitar 11 jam serangan sengit aparat keamanan dan menewaskan
lebih dari 278 orang. Bahkan, tentara Mesir sengaja menembaki Demonstran
dari helikopter
Ribuan orang itu tampak letih meninggalkan bundaran pada pukul 18.00
waktu setempat atau 23.00 WIB sambil mengangkat kedua tangan ke kepala.
Beberapa saat sebelumnya helikopter militer menyebarkan selebaran dari
udara berisi imbauan bahwa mereka dijamin keamanannya saat meninggalkan
bundaran melalui Jalan Nasser dan Yusuf Abbas, arah barat Bundaran
Rabiah.
Operasi gabungan tentara dan polisi yang didukung tank tempur, panser
dan buldoser mulai melancarkan serangan ke Bundaran Rabiah dan Bundaran
Al Nahdhah di Kairo Barat pada Rabu pagi pukul 07.00 waktu setempat.
Pendukung Mursi menduduki kedua bundaran di ibu kota negara itu sejak
27 Juni menjelang pelengseran Moursi dalam kudeta militer pada 3 Juli.
Ikhwanul Muslimin pendukung Moursi menuntut keabsahan Presiden Mursi
dikembalikan.
10.38
pksacehbarat

