Dalam setiap perjuangan berjamaah, kita diperlihatkan pelbagai fragmen
tipe-tipe pejuang. Ada pendiri sebuah
ormas-parpol-yayasan-jamaah-komunitas-DKM, namun kemudian menjadi
"musuh" dan lawan antagonis yang membenci secara simultan. Berawal dari
cinta tidak ada matinya, di kemudian hari berubah menjadi benci tiada
henti!
Ada juga fragmen pribadi yang dianakemaskan, dibina
dengan sentuhan-sentuhan tangan magis, "dibesarkan", "ditokohkan",
bahkan "diberi ruang gerak yang lebih". Namun di kemudian hari, ia
menjadi The Jobwhat. Tidak mengerti apa yang harus dilakukan dan misi
apa yang harus diperjuangkan. Di awal ia selalu di depan! Namun pada
akhirnya ia menjadi yang selalu ketinggalan!
Di sisi lain ada
juga jiwa-jiwa yang di awal hingga akhir tetap utuh. Tak terlalu nampak
perubahan mencolok. Secara karir biasa-biasa saja. Posisi pun tidak
berubah. Terkadang ikut rombongan untuk naik level, tapi sekali lagi ia
biasa-biasa saja. Prinsipnya menjadi garam di masakan. Wujudnya tak
terlalu nampak di struktur, tak terlihat di spanduk-spanduk, tak
terpampang di baliho-baliho. Namun perannya dirasakan ada, walau ia
dianggap biasa!
Nah ada yang dari awal ia adalah pribadi
yang laa syai (nothing). Namun ia terus bersabar ... terus bersabar ...
dan mereguk lautan makna dari asam manis garam kehidupan. Ia tak
terdorong untuk mencaci saat samudera dakwah itu nampak kotor di
permukaan. Sampah berserakan. Bahkan tak sedikit bangkai ikan yang
bertebaran! Ia hanya terus bertahan. Karena bagi dirinya, samudera yang
kotor sekalipun jika terus fokus dalam misi dan visi, akan tetap
bermanfaat mengantarkan kapal ke buritan. Maka jangan aneh, bila suatu
saat nanti tipe-tipe kader Laa syai inilah yang di kemudian hari menjadi
kullu syai!
Sahabat, mari kita renungi. BUkankah kita
menemukan, orang yang dahulu merekrut kita menjadi bagian dari dakwah
ini, namun di kemudian hari ia menjadi provokator dan penyebar kebencian
terhadap kita sendiri.
Bukankah kita terkagetkan, dengan
ikhwan-akhwat yang dahulu sangat taat dan ketat dengan prinsip. Namun
kini ia malah menjadi pribadi yang berpakaian ketat. JIka ia akhwat, ia
tak lagi memperlakukan suami dengan hormat. Jika ia ikhwan, ia tak mampu
membimbing istri dan keluarganya menjadi ahli akhirat. Malah tak
sedikit keluarga yang dipilih dari rahim dakwah, namun di kemudian hari
biduk rumah tangga itu pecah! Bukankah perceraian kini di kalangan
aktivis dakwah menjadi hal lumrah?
Kini kita paham, berada
dalam gerbong dakwah itu tidak terlalu penting apakah kita masuk di awal
atau paling ujung. Tidak terlalu penting apakah kita menjadi
koordinator, menjadi masinis, atau menjadi tukang karcis. Toch masinis
itu hanya 1-2 orang saja. Yang terpenting adalah, kita mampu menggali
potensi terbaik diri kita. Jika ada yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah,
maka niatkan Lillaahi Ta'ala. Biarkan pahala Allah saja yang diharap.
Oleh karena itu, kita tidak akan pernah "mundur" saat ditegur. Marah
saat diberi taushiah. Ilfil saat tak jadi calon di DAPIL. Keluar saat
ide-ide kita tidak dianggap mercusuar. Mari menjadi pribadi yang tidak
bersedih karena tidak dihargai. Tapi bersedih, karena diri kita tidak
berharga!
Dikutip dari Halaman Facebook Ustad Nandang Burhanuddin https://www.facebook.com/suasanajiwa