Sembilan penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Meulaboh, Aceh Barat,
Selasa (20/8) sekitar pukul 04.20 WIB melarikan diri, setelah
menggergaji jeruji besi. Mereka juga memanjat dinding pagar menggunakan
kain sarung yang dipilin jadi tali, lalu melompat dari ketinggian enam
meter. Sebagian mereka mengalami patah kaki dan cepat tertangkap.
Sebelumnya,
53 penghuni LP tersebut juga kabur pada Selasa, 8 Mei 2013 sore saat
penghuni LP gotong royong membersihkan sampah. Enam orang berhasil
diringkus langsung pada hari itu, namun sebagiannya menghilang hingga
kini.
Dalam peristiwa terbaru ini pun, dari sembilan pelarian,
enam orang di antaranya berhasil dibekuk lagi oleh petugas LP saat
berusaha bersembunyi di permukiman penduduk, tak jauh dari LP. Sedangkan
tiga orang lagi masih diuber polisi bersama sipir LP hingga tadi malam.
Di
antara sembilan orang yang lari itu, tujuh di antaranya berstatus
narapidana (napi), dua lagi merupakan tahanan titipan jaksa.
Kepala
LP Meulaboh, Sulistiono yang dikonfirmasi Serambi kemarin mengakui
sembilan warga binaan di LP itu melarikan diri pada Selasa dini hari.
Namun, enam di antaranya berhasil ditangkap. Peristiwa ini, menurut
Sulistino, sudah dia laporkan ke Polres Aceh Barat dengan harapan polisi
bisa segera menangkap para napi dan tahanan yang masih diuber itu.
Sulistiono
juga sudah melaporkan kasus pelarian napi dan tahanan itu kepada
atasannya di Banda Aceh, yakni Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum
dan Hak Asasi Manusia (Kakanwil Kemenkumham Aceh), Dr Yatiman Edy MHum
yang kebetulan kemarin sedang fokus dengan resepsi pernikahan anaknya di
Gedung Sosial Banda Aceh.
Menurut Sulistiono, untuk bisa kabur,
para penghuni LP itu lebih dulu memotong besi bulat padu pada pintu
kamar mereka menggunakan gergaji besi. Setelah itu mereka memanjat
dinding LP dan melompat ke tanah dari ketinggian enam meter.
Sesampai
di luar LP, beberapa di antara pelarian itu mengalami patah kaki.
Namun, mereka tetap berupaya lari menjauh dari LP dan bersembunyi di
permukiman penduduk. Namun, sekitar satu jam kemudian, enam dari
sembilan warga binaan itu berhasil dibekuk oleh sipir LP.
Menariknya,
penangkapan itu berawal dari laporan dan teriakan warga sekitar yang
menemukan ada pelarian bersembunyi di belakang rumahnya yang tak jauh
dari LP.
Pascakaburnya sembilan warga binaan LP yang berlokasi di
Desa Paya Peunaga, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat itu, personel polres
setempat bersama petugas LP langsung memeriksa kondisi seluruh sel yang
dihuni napi dan tahanan.
Saat menggeledah, petugas juga menyita
sejumlah HP dan benda-benda tajam dan berbahaya lainnya dari para warga
binaan. “Napi yang kedapatan punya HP di dalam LP akan kita selidiki,”
kata Wakapolres Aceh Barat, Kompol Nur Khamid yang ditanyai Serambi
kemarin.
Menurutnya, polisi juga akan menyelidiki dari mana para
pelarian itu memperoleh gergaji besi. “Orang luar atau orang dalam yang
terlibat menyelundupkan gergaji besi itu ke dalam LP pasti akan kita
tindak,” janji Wakapolres sembari menyebutkan bahwa keenam pelarian yang
berhasil ditangkap itu masih diperiksa intensif satu per satu.
Sementara itu, Serambi bersama wartawan lainnya kemarin berniat
mewawancari para napi dan tahanan kabur yang tertangkap lagi itu. Namun,
masih belum diizinkan petugas dengan alasan mereka masih diperiksa.
Wartawan hanya diizinkan mengambil foto mereka saat diperiksa polisi
bersama petugas LP Meulaboh.(Serambi Indonesia)
11.04
Humas


