Pengamat perpolitikan Mesir, Ibrahim Rantau, mengatakan peta konflik
di Mesir sudah berubah. Mesir pun kemungkinan kembali ke rezim lama
menyusul keputusan pengadilan Kairo yang membebaskan mantan presiden
Husni Mubarak terkait dakwaan banyak kejahatan.
“Peta konflik di Mesir sudah mulai berubah,'' kata Ibrahim yang pernah tinggal lama di Mesir ini.
“Peta konflik di Mesir sudah mulai berubah,'' kata Ibrahim yang pernah tinggal lama di Mesir ini.
''Awalnya adalah pertentangan pihak nasionalis liberalis dengan
Islam,'' katanya. ''Kini berubah menjadi pertentangan pihak rezim
militer yang dulu berada di bawah Mubarak dengan pro-Revolusi 2011.”
Pengadilan pidana Kairo, Senin (19/8), memutuskan ‘membersihkan’ nama
Mubarak dari dakwaan korupsi uang negara yang disinyalir dipakai untuk
kepentingan pribadinya.
Di samping korupsi 1,1 miliar pound Mesir, Mubarak juga didakwa
bertanggung jawab atas pembunuhan lebih dari 800 demonstran yang
menentangnya dalam Revolusi 2011 lalu. Kasus ini masih dalam penundaan
sidang.
Ibrahim menilai ada dua skenario yang mungkin terjadi terkait
pembebasan Mubarak hari ini. Pertama, akan memancing kembali munculnya
gerakan revolusi seperti pada tahun 2011 yang menuntut penggulingan
Mubarak sebagai presiden.
Skenario kedua adalah bisa jadi tidak ada gerakan apa pun sama sekali.
''Karena, masyarakat mungkin sudah lelah dengan berbagai hal yang
terjadi di Mesir,'' katanya. ''Masyarakat mulai pesimistis meskipun
mereka ingin kebebasan dari rezim.''
17.40
Humas


