Seorang anggota Kongres Amerika, Lindsay Graham, menyebutkan sesuatu
yang sedikit mengejek Hazim Bablawi, perdana menteri kudeta Mesir.
Dalam
laporannya yang ditulis di Newyork Times, beliau menyebutkan bahwa
Bablawi adalah sebuah “bencana”. Hal itu dilihat dari cara yang
dilakukannya untuk menggagalkan setiap usaha Amerika dalam menyelesaikan
krisis politik di Mesir secara damai.
Misalnya, Graham
menceritakan pertemuannya dengan Bablawi. Bablawi selalu menasihatinya
agar tidak bernegosiasi dengan Ikhwan, sebelum mereka menyudahi
demonstrasi dan menghormati undang-undang.
Dalam kesempatan itu Graham menjawab, “Sangat
sulit bagi orang sepertimu untuk memberikan ceramah tentang
undang-undang. Berapa suara yang kau dapatkan dalam pemilu? Kamu sama
sekali belum pernah menjadi kontestan pemilu.” Menurutnya, secara hukum Ikhwanlah yang berhak memimpin karena mereka telah memenangkan berbagai pemilu.
Pendukung
Presiden Mursi telah setuju dengan solusi damai. Mereka siap mengurangi
setengah jumlah demonstran di Rab’ah, dengan catatan semua pimpinan
mereka dibebaskan. Setelah itu baru akan dibicarakan langkah selanjutnya
dalam kerangka penyelesaian damai. Tapi waktu terus berjalan, pihak
penguasa kudeta tak juga membebaskan mereka. Yang ada bahkan semakin
gencarnya aksi penangkapan. (dakwatuna)
17.03
Humas


