Peristiwa pembantaian warga sipil oleh
rezim militer di Mesir mendapat sorotan umat muslim di Indonesia,
khususnya di Jakarta. Umat muslim mengutuk keras pembantaian yang
menewaskan ribuan umat sipil itu.
Ironisnya, pembantaian
tak hanya dilakukan militer di area demontrasi, tapi juga di
masjid-masjid yang merupakan simbol peribadatan umat Islam. Bahkan
sekitar 30 ulama Al Azhar turut menjadi korban kebiadaban militer.
Koordinator
World Islamic Society for Democracy and Humanity (WISDOM) Agus Setiawan
mengatakan, terkait kejadian itu, umat Islam dunia menyatakan mengutuk
kejahatan kemanusiaan di negeri Piramida tersebut. Tercatat, aksi keji
yang dilakukan telah menelan lebih dari 6000 warga sipil Mesir.
"Sebagai
bentuk solidaritas, WISDOM menggelar aksi demontrasi besar-besaran
bersama seluruh komponen masyarakat dan tokoh masyarakat di depan
Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta Pusat, yang diawali dengan sholat
Jum'at bersama di Masjid Istiqlal," tegas alumnus Universitas Al Azhar
Mesir.
Agus menambahkan dalam aksi ini, atas nama seluruh
masyarakat Indonesia, WISDOM menuntut kepada PBB sebagai polisi dunia
untuk segera mengambil tindakan tegas atas tragedi kemanusiaan di Mesir
dengan menyeret Jenderal Abdul Fatah El Sisi ke Mahkamah Internasional
sebagai aktor utama pembantaian di Mesir.
"WISDOM juga meminta
Kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama, sebagai negara yang
menjunjung tinggi demokrasi untuk segera menghentikan sifat
kemunafikannya dalam berdemokrasi, agar masyarakat dunia tidak
kehilangan kepercayaan pada demokrasi," ujarnya penuh semangat.
Sementara
itu di dalam negeri, WISDOM meminta pemerintah Indonesia untuk bereaksi
lebih konkrit atas peristiwa pembantaian di Mesir dengan menarik duta
besar RI untuk Mesir, mengingat Mesir memiliki lagenda sejarah dan
hubungan yang harmonis dengan Indonesia.
Mesir adalah negara
pertama yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia pada
tahun 1945, dan saat Aceh tertimpa Tsunami tahun 2004, Dr. Mohammad
Mursi terjun langsung membantu ke Aceh untuk memberikan bantuan.
Indonesia
juga memiliki kebijakan Politik Luar Negeri Bebas dan Aktif, selain itu
dalam Pembukaan UUD 1945 RI ditegaskan bahwa pemerintahan Indonesia
harus ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
"Jadi tunggu apa lagi,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus segera bertindak, jangan hanya
berdiam diri, agar negeri ini tidak dianggap sebagai negeri yang tidak
tahu berbalas budi," pungkas Agus.
Aksi bertajuk "Darah Mereka,
Darah Kami" ini, juga akan dihadiri oleh KH. Sadeli Karim (ketua Umum PB
Matla’ul Anwar, dan Prof. Dr. Ahmad Satori Ismail, MA. (ketua Ikatan
Da’I Indonesia/IKADI), Dede Nurhasan (Persaudaraan Umat Islam/PUI).
[mes]
09.36
Humas


